Monday, October 5, 2015

Kisah seorang petani muda yang mensukseskan semua keluarganya


bukan apa pekerjaan kita ?. tapi bagai mana kita bisa memaksimalkan pelungnyang ada terhadapa apa yang sudah kita miliki.. dan terus berharap semoga bisa menjadi lebih baik

Cerita ini di ambil dari sebuah kisah nyata rektor Universutas Negeri Surakarta, berikut ceritanya
-----☆-----☆-----
Waktu itu saya dalam perjalanan dari Jogya ke Jakarta naik pesawat ✈.
Karena keberangkatan pesawat ditunda 1 jam saya menunggu di in HB kafetaria bandara Adisucipto sekedar minum kopi ☕.
Di depan saya duduk seorang ibu sudah agak tua, memakai pakaian Jawa tradisional kain batik dan kebaya, wajahnya tampak tenang dan keibuan.
Sekedar mengisi waktu, saya mengajaknya bercakap-cakap.
"Badhe tindak Jakarta, Bu?" (mau pergi ke jkt, bu?)
"Inggih nak, namung transit ing Cengkareng lajeng dhateng Singapura."
(Iya nak, hanya transit di cengkareng terus ke singapura)
"Menawi kepareng nyuwun pirsa, kagungan perlu menapa ibu tindak Singapura..?"
(Kalau boleh, mau menanyakan, ada keperluan apa ibu pergi ke singapura?)
"Tuwi anak kula ingkang nomer kalih Nak. Semahipun nglairaken wonten ngrika lajeng kula dipun kintuni tiket lan dipun urusaken paspor langkung Biro Perjalanan. Dados kula kantun mangkat boten sisah repot ngurus menapa-menapa".
(Menengok anak saya yang nomor dua nak, istrinya melahirkan di sana terus saya diberi tiket dan diuruskan paspor melalui biro perjalanan. Jadi saya tinggal berangkat tanpa susah mengurus apa-apa)
"Ingkang putra ngasta wonten pundi Bu.?"
(puteranya kerja dimana, bu?)
"Anak kula menika Insinyur Perminyakan, nyambut damel wonten Perusahaan Minyak Asing, samenika dados Kepala Kantor Cabang Singapura."
(Anak saya ini insinyur perminyakan, kerja di perusahaan minyak asing, sekarang kadi kepala kantor cabang singapura)
"Putra sedaya pinten, Bu.?"
(Berapa anak ibu semuanya?)
"Anak kula sekawan Nak, jaler tiga, estri setunggal. Menika wau anak kula nomer kalih. Ingkang nomer tiga ugi jaler, Dosen Fakultas Ekonomi Gadjah Mada, samenika saweg mendhet Program Doktor wonten Amerika. Ingkang ragil estri, dados dokter spesialis
Anak, semahipun ugi dokter Ahli Bedah lan dosen wonten Fakultas Kedokteran Airlangga Surabaya."
(Anak saya ada 4 nak, 3 laki2, 1 perempuan. Yang ini tadi anak nomer 2. Yang nomer 3 juga laki2, dosen fakultas ekonomi UGM, sekarang lagi ambil program doktor di Amerika. Yang bungsu perempuan jadi dokter spesialis anak. Suaminya juga dokter, ahli bedah dan dosen di universitas Airlangga Surabaya)
"Menawi putra mbajeng.?"
(Kalau anak sulung?)
"Piyambakipun tani, Nak. Manggen ing Godean nggarap sabin tilaranipun swargi bapakipun".
(dia petani, nak. Tinggal di Godean, menggarap sawah warisan almarhum bapaknya)
Saya tertegun sejenak lalu dengan hati-hati saya bertanya,
"Tentunipun Ibu kuciwa kaliyan putra mbajeng nggih Bu. Kok boten sarjana kados rayi-rayinipun."
(Tentunya ibu kecewa kepada anak sulung ya bu. Kok tidak sarjana spt adik-adiknya)
"Babarpisan boten,Nak. Kita sedaya malah ngurmati piyambakipun. Kanthi kasil saking sawahipun, piyambakipun ngragadi gesang kita sakulawarga lan nyekolahaken rayi-rayinipun sedaya ngantos rampung sarjana".
(Sama sekali tidak, nak. Malahan kami sekeluarga semuanya hormat kepada dia. Dari hasil sawahnya dia membiayai hidup kami dan menyekolahkan semua adik-adiknya sampai selesai jadi sarjana)
Saya merenung :
Ternyata yang penting bukan Apa atau Siapa kita, tetapi apa yang telah kita perbuat.
Allah tidak akan menilai apa dan siapa kita tetapi apa amal-ibadah kita.
Tanpa terasa air mata mengalir di pipiku... 
 Catatan :
Mohon maaf untuk yang tidak mengerti bahasa Jawa, dialog dalam kisah diatas saya tulis apa adanya tapi diterjemahkan kok.
*Cerita Prof Dr Ravik Karsidi (Rektor UNS).

Bagikan

Jangan lewatkan

Kisah seorang petani muda yang mensukseskan semua keluarganya
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

loading...